Sunday, January 10, 2016

Langit Yang Sama

Aku suka memandang langit akhir-akhir ini. Entah mengapa. Tak tau, dan tak mau tau, tak juga ingin tau. Bukankah banyak hal di dunia ini terjadi tanpa alasan? So.. Yeah, aku membiarkan pertanyaan "mengapa" dalam hal ini tanpa berpasangan dengan deskripsi yang memuat penjelasan atas alasanku menyukai langit.
Seperti senja tadi. Langit kelabu tampak merata tanpa ada highlight warna biru ataupun putih. Sesiangan tadi hujan, sehingga kemungkinan sisa mendung masih ada. Memandang langit itu memberikan ketenangan. Mengingatkan juga bahwa aku adalah kecil di hadapanNya. Sangat kecil. Memandang langit juga mengingatkan aku pada seseorang yang juga terkena racun pengaruhku betapa langit sungguh sakti, sehingga memandanginya menjadi hal yang penting. Kami dulu suka memandang langit bersama. Bersama, ya, bersama. Dalam waktu yang sama, namun berjarak ratusan kilometer jauhnya. Dalam beberapa kali memandang langit, memang langitku tak pernah sama persis dengan langitnya. Tapi kami sama-sama meyakini bahwa langit yang kami pandang adalah langit yang sama. Bagaimana tidak? Langit kan hanya satu, seperti halnya bulan, ataupun matahari. Jadi, langit seakan mendekatkanku padanya. Bukan dekat secara geografis, namun secara perasaan.
Dan kini hari berganti malam. Jika tak ada bintang, maka kami tak akan bisa memperbandingkan langit kami. Tak apa, yang penting adalah keyakinan bahwa langit kami sama. 

10.01.2016-18.25

No comments:

Post a Comment