Saat bermimpi, semua terasa nyata. Bahkan setiap detiknya berjalan dengan sangat lambat, dan seakan-akan aku sangat yakin bisa menceritakan kembali apa yang terjadi selama semalaman "bersamamu". Namun, semua jalan cerita, runtutan kejadian, yang pada awalnya aku yakin bisa ku ingat dengan tepat, saat aku terjaga, seakan-akan menjadi serpihan-serpihan kisah yang sangat perlu usaha yang keras untuk menyatukan dan mengurutkan kembali. Ingatanku kah? Atau begitulah mimpi? Aku tak tahu... Yang bisa aku rasakan hanya dongkol dan jengkel. Bukan padamu, tak mungkin hal itu terjadi. Aku dongkol dan jengkel pada diriku sendiri. Apakah aku kurang keras berusaha? Entahlah, aku merasa sudah sangat keras berjuang mengingat semuanya. Tapi tetap saja, nihil.
*****
Dari kejauhan tampak sebuah mobil sedan vintage merah mendekatiku. Saat itu aku berjalan di sebuah lorong, dengan atap dan pilar-pilar berukuran sedang melingkupi jalan setapak yang berlantaikan tanah itu. Atap jalan setapak itu tampak semakin cantik dengan hiasan bunga berwarna putih dengan bagian tengahnya yang terlihat agak menguning (nggak tahu apa nama bunganya). Bunga yang sepertinya tumbuh merambat itu juga tampak semakin memperindah pilar yang ada dengan daun dan batangnya yang menjalar memutari pilar hingga ke arah bawah. Di balik kemudi, sebuah tawa sudah menyambutku. Tawa yang ingin ku miliki selamanya, tawa yang ingin ku nikmati seumur hidupku. Tawa itu milik Kev. Dia mengentikan mobilnya beberapa meter dari tempatku berdiri. Tanpa melepaskan pandangannya dariku, ia melepas kunci mobil itu, membuka pintu, menutupnya kembali dan berjalan mendekatiku. Perut dan dadaku terasa sesak. Ada perasaan meleleh yang sulit ke deskripsikan. Aku berdiri mematung, namun gaun panjang warna gading yang ku kenakan tertiup angin. Kev telah berdiri di hadapanku, kemudian kedua tangannya menggenggam jemariku. Ia menyusupkan jari-jarinya di antara jari-jari tanganku. Dan aku merasakannya. Itu seperti nyata. Bahkan untuk sesaat aku menyangka ini benar-benar nyata. Jemari kami yang saling bertemu seolah-olah sedang benar-benar terjadi. Dia masih mengunci pandangannya ke arah mataku. Sedari tadi. Pandangannya yang sangat "dia". Aku menyebutnya " the look". Pandangan yang ku artikan sebagai, "aku akan menjagamu selamanya". Seorang sahabat pernah mengatakan padaku, "pandangan kak Kev memang bikin klepek-klepek. Tajam, tegas, tapi sekaligus hangat dan menyejukkan, apalagi mbak Shar jelas-jelas cinta sejatinya".. Hm.. Abaikan sejenak frase " cinta sejati", karena sesungguhnya pada konteks ini aku ingin menekankan bahwa pendapatku tentang "the look" adalah benar adanya.
*****
Dan tanpa ku sadari, hanya itu yang terjadi. Atau, lebih tepatnya adalah, hanya itu yang tersisa.. Tidur malam sedari jam 9 dan terbangun sebelum jam 3 pagi hanya menyisahkan scene yang tidak begitu panjang durasinya. Tak banyak detail yang bisa teringat. Namun satu hal yang aku tak mengerti adalah rasa itu. Rasa saat kau menyelipkan jemariku ke jemariku. Rasa itu entah bagaimana caranya masih terasa saat ku buka mataku. Bukan hanya rasa di hatiku, tapi juga rasa di indera kulit jariku. Mungkin karena kau selalu menggenggam jemariku, sehingga rasa itu selalu ada, dan ia akan muncul kembali saat kisah bernama mimpi hadir lagi dengan kau sebagai pemeran utamanya.
"Kriiiiiinggggggg", jam wekerku menjerit, dan dengan satu jari aku mematikannya. Tanpa menunggu lama, aku bergegas, janjian dengan Nya setiap jam 3, yang aku yakin, di bagian belahan bumi yang lain kau juga melakukan hal yang sama. Setidaknya itu yang kau pesan padaku untuk melakukannya. Dan aku melakukannya. Setiap hari.
No comments:
Post a Comment