Friday, January 8, 2016

Sabar, Kompromi, dan Berdoa

Shar membiarkan buku diary nya terbuka di atas meja kerjanya. Di halaman yang terbuka terdapat tulisan "D.A.M.N.!!!" Di bawahnya tampak berbaris rapi tulisan dengan huruf kecil yang tidak begitu jelas terbaca. Di antara tulisan-tulisan tersebut, ada beberapa tetes air yang cukup membuat tinta tulisan di halaman yang terbuka itu memudar. Dia memalingkan wajahnya dari buku berwarna coklat muda itu dan memandang ke arah jendela yang berada di sebelah kanannya. Dari dalam kamarnya, Shar mendapatkan view yang langsung menuju pada bulan yang saat itu ditemani sebuah bintang yang bersinar cukup terang. Lama ia memandangi benda langit yang nampak saling setia menemani itu. Jarinya mencengkeram pena berwarna biru dengan kuat. Tanpa dia sadari, tangannya mengetuk-ngetukkan pena yang ia pegang ke atas lembaran yang hampir tak ada ruang lagi untuk menulis itu. Matanya terbuka lebar, masih memandangi bulan dan bintang, namun di saat yang sama, air matanya mengalir membanjiri pipinya yang dingin. Ia tak bersuara. Tak ada isakan sama sekali. Bahkan, helaan nafas pun tidak. 5 menit berlalu, hingga ia tak menyadari bagaimana tiba-tiba ia berada di pantai. Duduk di atas pasir putih yang kering,dan ia menyandarkan kepalanya pada bahu seseorang. Tunggu.. Bahu siapa itu? Bagaimana dia bisa berakhir di pantai? Kapan ia merencanakan sebuah liburan yang melibatkan pantai? Bukankah hingga akhir bulan jadwalnya sangat padat dengan pekerjaan marathonnya?
"Tau nggak neng?" Shar tersentak dengan suara bass yang ia dengar barusan. Apa ini? Siapa dia? Mengapa dia memanggil dengan panggilan 'neng'? Hanya satu orang yang melakukannya. Kev. Iya, hanya Kev. Tapi bagaimana mungkin ia dan Kev bisa berada di pantai dengan pemandangan maha indah ini? Langit yang berwarna orange keemasan, buih ombak putih yang berkejaran membelai bibir pantai, dan belum lagi dengan burung-burung yang tampak membelah cakrawala. Indah, lebih dari indah. Shar mendongakkan kepalanya, mencari sumber suara. Oh Tuhan, itu benar Kev. Pandangan matanya yang tegas, seakan menghipnotis, membuatnya meleleh (seperti biasanya - his look, the look). Walaupun terhalang kaca mata berbingkai merah (yang sama dengan kaca mata Shar tapi saat itu tak ia kenakan), namun sorot mata melindungi dan penuh cinta-nya Kev tidak berkurang.
"Neng? Kenapa?" Suara Kev kembali memecah keheningan. Pria bermata agak sipit itu membelai lengan Shar yang sedari tadi telah dipeluknya. Hati Shar berdesir, dadanya berdegup semakin kencang. Shar tak mampu bereaksi apapun, selain reaksi alami dari orgam-organ dalam tubuhnya yang terjadi secara alami, tanpa ia kendalikan sedikitpun.
"Jangan nggak inget pesenku neng. Pokoknya sampai kapanpun, jangan pernah nggak bersyukur. Apapun yang terjadi pada kita harus kita syukuri. Bersyukur itu harus. Sesakit apapun yang kita alami, senelangsa apapun yang kita rasakan, dan setidak adil bagaimanapun kenyataan dan cobaan hidup, harus tetap bersyukur. Sabar, kompromi, dan berdoa. Tiga hal itu neng, hanya tiga hal itu saja", ucapnya panjang lebar dan mengakhiri penjelasannya dengan menyentuhkan bibirnya ke kening Shar, kali ini kedua tangannya ia lingkarkan pada badan Shar.
Oh Tuhan, apa ini? Shar memejamkan mata, menikmati lembutnya angin sore yang menyentuh wajahnya, dan merasakan kedamaian yang teramat sangat dengan ciuman Kev di keningnya. Kenyamanan..yeah, Shar merasa sangat nyaman. Berada dalam pelukan Kev adalah tempat ternyamannya. Desiran angin sore dan suara ombak mewarnai sore yang hangat kala itu. Nyanyian burung juga terdengar samar-samar dari kejauhan. Sama samar-samarnya dengan suara lain yang terdengar. Suara ponsel. Alarm. Itu adalah alarm dari ponsel Shar.
Shar membuka matanya dan meraih ponselnya yang ia letakkan di pinggir kasur. " Neng, tahajud sayang.. Love you", begitu pesan di layar alat komunikasinya yang berwarna putih itu. Jam 3 pagi. Ternyata sudah saatnya ia bangun. Dan ia tertegun menemui butiran pasir di halaman buku diarynya yang terbuka. Pada bagian bawah tertulis, "sabar, kompromi, dan berdoa"...

***

'Mengapa rindu ini selalu ada?' Shar memaki dalam hati. 'Gila kau Kev, tak semudah itu melakukan 3 hal yang selalu kau ucapkan', ujarnya lagi, masih di dalam hati. Tapi bagaimanapun, entah mengapa ia selalu menuruti apa yang Kev katakan. Jadi, ya, ia akan tetap sabar, berkompromi, dan berdoa dengan rasa rindu yang ia rasakan setiap hari terhadap Kev. Setiap hari. Seperti hari ini, dan hari-hari sebelumnya, serta hari-hari di depannya, tentu saja...

09.01.2016
10.18

No comments:

Post a Comment