Tuesday, December 29, 2015

Genggamanmu dalam Perjalananku

Tak seperti biasa, perjalanan pulang kali ini sangat berbeda. Menghabiskan waktu 45 menit seakan-akan seperti selamanya. Bukan lalu lintas yang teramat padat dibandingkan dengan hari-hari lain. Bukan pula cuaca ekstrim yang tak sama dengan hari-hari sebelumnya. Sepertinya ini karena tak ada engkau. Oh Tuhan.. Aku terlupa bahwa engkau telah lama hilang. Ya, lenyap tak berbekas. Dan ya, aku telah (terpaksa) terbiasa.
Ada masa di mana kau tak hanya menemaniku, berada di sisiku, dan mendampingiku. Tapi kau juga membiarkanku menggenggam tanganmu. Sepanjang jalan. Sejauh apapun itu. Kini, jangankan menggenggam tanganmu, aku bahkan tak tau kau berada di benua yang mana. Aku tak yakin daratan mana yang kau pijak. Kau dan aku sama-sama berencana mendiami sebuah tempat yang akan menjadi saksi kebahagiaan kita. Tapi, kita hanya diizinkan olehNya untuk berencana. Saat ini. Aku yakin hanya saat ini.
Lampu lalu lintas di depanku sedari tadi menyala merah. Penanda waktu menunjukkan masih ada sekitar 26 detik lagi sebelum aku harus menginjak pedal gas. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ada pesan masuk. Tangan kiriku membuka pesan itu. Dari Kev. Apa?? Aku membelalakkan mata, dan membaca deretan tulisan di layar berwarna putih itu. "Neng, apa kbr? Aku mau ke Bandung. Bs ktmu? Kbri ya geulis ;*"... Nafasku tercekat. Itu benar-benar Kev. Ku pandangi isi pesan itu, tak percaya bahwa Kev, yang aku kira menjalani hidup di benua lain dan tidak mungkin akan bisa bertemu lagi, besok akan menginjakkan kaki di kota tempat aku bermukim. Otakku tak cukup tanggap memproses informasi yang lebih dari sekedar mengejutkan ini. Lalu terdengar suara nyaring klakson dari kendaraan di belakangku. Ternyata lampu telah berganti hijau. Aku tersenyum. Kev akan datang. Besok aku akan melihatnya. Besok akan ada Kev. Dan aku bisa meminjam tangannya lagi untuk aku genggam. Dan mungkin kali ini tak akan ku lepaskan. Ralat. Dan tak akan ku lepaskan. Tak akan.

Monday, December 28, 2015

Mencandui Air Mata

Berteman dengan air mata menjadi hal yang biasa dalam hidupku kini. Tak ada yang bisa ku lakukan selain membiarkan dan (selalu terus berusaha dan mencoba berusaha) menikmatinya. Terkadang, menarik nafas dalam-dalam bisa membantu. Bukan membantu menghapus air mata, namun lebih tepatnya adalah membantu meringankan beban berat yang mengikuti desah nafasku, sehingga air mata itu tetap ada.
Bisakah air mata itu enyah dari hari-hariku? Entahlah, kadang aku menikmatinya. Getaran yang aku rasakan di dada ini terasa sempurna dengan air mata yang mengalir. Isakan tangis ini terasa lengkap dengan hadirnya butiran kristal di kedua pipiku. Aku semacam mencandui air mata. Namun hanya itu, hanya air mata yang mencanduku. Aku tak menggemari rasa sedih yang menyertai. Aku bukan penyuka kenelangsaan tak berujung yang mewarnai langkah hidupku. Orang bilang masa depanku masih panjang, hidupku masih lama. Entahlah... Bukan mereka yang menentukan seberapa lama hidupku di dunia ini, bukan?
Aku memang mencandui air mata, tapi aku pun pada suatu titik merasakan lelah dengan tangisan ini. Hidupku akan sia-sia. Benar apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Teteskan air mata untuk hal-hal yang berharga dan layak mendapat tetesan air mata. Hm... Lalu, apakah ini layak untuk dicandui? Apakah air mata ini tepat? Bagiku, kau lebih dari sekedar layak. Bagiku, hal ini pantas untuk buatku menangis dan mencandui air mata. Hanya saja aku tak tahu, sampai kapan aku bisa merasa baik-baik saja mencandui air mata karenamu. Aku tak tahu, sampai kapan aku merasa baik-baik saja mencandui air mata karena hal ini.

Sunday, December 27, 2015

Childhood: An Irreplaceable Stage of Life (1)

Shar memandang pohon-pohon yang saling berkejaran di luar jendela keretanya. Mereka tampak berlomba untuk menjadi yang pertama. Namun, tak terlihat kompetisi di antara pohon-pohon yang menjulang tidak terlalu tinggi itu. Sesekali hangatnya sinar matahari pagi menyibak dedaunan hijau pohon-pohon tersebut, seakan ingin ikut berkejaran dengan mereka. Shar menghela nafas sambil membetulkan kaca matanya yang berbingkai merah. Perjalanan pagi itu sangat dingin. Sweater rajutnya tak cukup mampu melindungi dinginnya AC di kereta ekonomi yang ia tumpangi pagi itu. Bagaimana tidak, satu gerbong ular besi sepanjang sekitar 30 meter itu dilengkapi dengan 6 AC ruangan yang minimal per AC nya memiliki kekuatan sekitar 1 ½ PK.
"Selamat pagi, pemeriksaan tiket", suara kondektur kereta membuyarkan lamunannya. Shar bergegas mengambil tiket keretanya dari dalam tas jinjingnya dan langsung menyerahkan pada pria berkumis tipis yang pagi itu didampingi oleh seorang laki-laki yang usianya terlihat lebih muda beberapa tahun dari kondektur tersebut.
"Stasiun Semarang Poncol, ya bu", ujarnya sambil melubangi tiket Shar dan menyerahkannya pada wanita yang bepergian hanya dengan membawa sebuah tas jinjing saja.
Setelah kondektur itu berlalu, Shar kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Pemandangan yang masih sama tampak di depan matanya. Permadani dengan warna gradasi hijau yang cantik dan tampak beberapa bagiannya berubah-ubah warna bagai hologram. Di kaca jendelanya, perempuan  berdarah Sunda itu melihat pantulan anak anak dari tempat di seberang tempatnya sedang bercanda dan terdengar suara mereka yang riang dan renyah. Sesaat angannya melayang, mengembara jauh ke masa 25 tahun yang lalu...
*****
"Jadi, kalau berteman, kalian tidak boleh pilih-pilih ya. Harus mau berteman dengan siapa saja. Laki-laki dan perempuan tidak jadi masalah, yang penting sama-sama saling menghargai, tidak boleh bermusuhan", suara tegas bu Hasanah terngiang di telinga Shar. Namun, fikirannya tidak 100% terpusat pada materi pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Di depannya, buku catatannya bersih dari catatan, dan hanya terdapat beberapa tulisan kecil berbaris di situ. Shar & Kev. Itulah tulisan yang terdapat di sana. Di sebelahnya, Merry, tampak serius mendengarkan penjelasan bu Hasanah, namun tiba-tiba ia menyadari bahwa teman sebangkunya tampak lebih asyik dengan tulisan di buku catatannya.
" Shar, kamu ngapain sih?" tanya Merry penasaran.
"Eh.. Eh.. Nggak.. Nggak papa.. Nggak papa Mer", Shar tergagap merespon pertanyaan teman sebangkunya itu sambil menutup buku catatannya dan pura-pura memperhatikan pelajaran bu Hasanah.
Di saat yang bersamaan, Shar mendengar bu Hasanah memanggil namanya, " Apa Shar contohnya?" Sambil memandang tegas pada Shar yang salah tingkah dan tidak tau harus menjawab apa. Dia mencoba meminta bantuan pada Merry, namun sia-sia, karena teman sebangkunya sengaja menjauhkan kaki kanannya yang semula akan Shar injak untuk memberi kode bahwa Shar membutuhkan bantuannya.
Saat itulah pandangannya ia alihkan ke arah Kev yang duduk di bagian kiri depan, searah dengan posisi bu Hasanah berdiri. Bocah berusia 10 tahun itu spontan menaikkan alisnya, dan tanpa diduga Kev menggerakkan bibirnya. Tanpa menunggu waktu, Shar langsung membaca bibir Kev, dan mentransfer informasi dari Kev pada bu Hasanah. "Main bersama bu". Kemudian bibir mungilnya mengucapkan terima kasih pada Kev yang disambut dengan senyuman.
***
Kev. Nama itu telah menemani hidup Shar sejak hm.. Sejak seumur hidupnya mungkin. Dan hingga detik ini, tak hanya namanya yang lekat di benak Shar, namun hatinya juga tak bisa terlepas dari Kev. Shar memandang langit yang berhiaskan awan putih. Abstrak memmang bentuk awan itu, namun bukan mencari bentuk mirip apa awan di langit cerah pagi itu yang ia lakukan, melainkan meyakini bahwa langit yang sedang dipandang Kev pagi itu, di belahan bumi yang lain, adalah langit yang sama yang sedang ia pandangi.
Masa kecil yang Shar lewati bersama Kev adalah masa yang tidak ingin ia gantikan dengan apapun di dunia ini. 25 tahun yang lalu, ia jatuh hati pada teman sekelasnya itu, dan kini hatinya tak bisa beranjak dari pria yang entah apakah mungkin akan ia temui lagi. Jarak yang memisahkan mereka bukan lagi ratusan kilometer jauhnya. Bukan pula hanya daratan yang memisahkan mereka. Yang lebih penting, sesungguhnya bukan hanya jarak yang membuat mereka tak bisa bersama. Sesungguhnya perpisahan mereka adalah lebih karena keadaan. Yeah.. Shar harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa hidup bersama dengan orang yang ia sayangi...

Tuesday, December 22, 2015

Merindumu, Sangat...

Aku memandang ke atas untuk kesekian kali. Memastikan bahwa tak ada yang ku lewatkan. Setiap inchi langit gelap itu ku telusur dengan mata minusku. Ah.. Seakan sia-sia usaha ini. Kaca mata minus 1 yang bertengger di hidungku tak juga cukup membantu pencarianku. Kedua mataku menyapukan pandangan ke seluruh bagian angkasa hitam yang terbentang bagai tanpa batas.
Aku menghela nafas, dan memejamkan mata, masih dengan kepala mendongak. Harapanku, selang 10 detik kemudian, saat ku buka mata kembali, ia telah ada di sana. Tersenyum padaku, seakan berkata, "aku takkan ke mana-mana, aku adalah penjagamu, guiding angel- mu". Namun usahaku sia-sia. Bahkan pada hitungan setelah detik ke-15, saat ku buka mataku lagi, kau tetap tak ada di sana. Kau tetap menghilang tanpa aku tahu kau ada di mana, tanpa aku tahu apa yang menimpamu, tanpa ada kata-kata apapun.
Aku beranjak dari tempat duduk rotan di teras rumahku. Kakiku membawa langkah gontaiku ke dalam rumah. Ada beberapa titik kristal bening di sudut luar mata kanan dan kiriku yang seakan-akan berebut untuk segera terbebas dari kelopak mataku dan mengalir membentuk aliran sungai kecil di kedua pipiku. Mereka menetes bersama saat ku pejamkan mataku. Aku menyerah. Hanya kali ini. Karena aku telah berjanji bahwa swtwlah masuk liang lahat baru aku akan berhenti berusaha. Aku merindumu, sangat...

*****

Entah malam ke berapa ini, namun aku masih akan tetap di sini. Perjalananku tidak akan ku hentikan, walau tanpa bisa maksimal menggunakan hari-hariku untuk melihatmu dan mendekatkan diri padamu. Jarak kita memang jauh. Terlalu jauh malah. Langit adalah rumahku, dan bumi adalah tempat kau pijakkan kakimu. Aku masih ingat melihat senyummu dari atas sini. Aku tak akan pernah bisa melupakan gaun violet yang kau kenakan saat itu. Kau tak hanya cantik, tapi kau membuatku senang memandangmu, bahagia bisa mengamatimu, dan tenang karena aku bisa menjagamu dari atas sini.
Aku tak pernah ingin berpisah darimu. Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa bisa memandangmu. Aku tak siap untuk merindukanmu. Tapi apa daya. Jarak kita terlalu jauh. Seandainya kita lebih dekat, maka tak hanya hatimu yang ku ikat, namun, aku juga akan menggenggam jemarimu dan tak akan ku lepaskan, tak akan pernah.
Aku menerima sinyal itu. Atau, aku dulu menerima sinyal itu. Sinyal dengan bahasa verbal, "maukah kau jadi guiding angel-ku?" Yang tanpa berpikir 2 kali aku langsung mengiyakan. Sayang, bahkan mengangguk pun aku tak bisa. Padahal, jika memungkinkan, aku pasti akan melompat-lompat kegirangan. Ini lah yang aku tunggu. Inilah yang aku inginkan. Dan engkau mewujudkannya. Engkau membuat ini jadi nyata.
Namun sayang, lagi-lagi malam ini awan hitam menghalangi pandanganku padamu. Aku tak bisa lagi melihat tawamu. Aku kehilangan momen-momen mengamati hal yang kau lakukan di bawah sana dari atas. Tapi, aku tak akan berhenti. Percayalah, esok malam aku akan mencarimu lagi. Semoga mendung tak lagi menghalangi pandanganku. Ya, aku merindumu, sangat... Aku adalah bulan.

Welcoming My Self

Menulis bukan hal yang susah. Setiap orang bisa menulis. Pasti. Menulis sama halnya dengan membaca, minum, makan, mandi, bermain, atau menonton film dan mendengarkan radio. Pertanyaan penting yang mungkin lebih harus menjadi perhatian sebetulnya adalah "Apakah saya bisa konsisten menulis?" Hm... yeah, pertanyaan ini akan sulit untuk dijawab, dan tentu lebih kompleks daripada pertanyaan, "Apakah saya bisa menulis?".

Satu hal kunci yang harus dipegang teguh, dipercayai dan dilakukan adalah 'konsisten'. Ini sama susahnya dengan 'ikhlas' sebenarnya. Banyak sumber yang menjelaskan mengenai ikhlas, mulai dari definisi konsep, aplikasi dalma kehidupan sehari-hari, hingga testimoni mengenai bagaimana kisah-kisah orang yang telah berhasil mengaplikasikan teori ikhlas ke dalam kehidupan mereka, dan pada akhirnya berakhir dengan bahagia. Namun, pelajaran ikhlas tidak mudah untuk dilakukan. Banyak orang yang merasa bahwa hingga usaha yang dilakukan sudah mereka rasa berada pada puncak tertentu, namun akhirnya jebol juga pertahanannya, sehingga bisa dibilang tidak lolos ujian untuk menjadi ikhlas.

Konsisten pun sama. Berulang kali saya mencoba untuk konsisten, berjanji kepada diri sendiri untuk menjalankannya, namun ada saja alasan (yang saya buat sendiri), sehingga konsisten yang sudah saya janjikan akan saya lakukan terhadap kebiasaan menulis ini tidak terealisasi dengan optimal.

Menulis sesungguhnya telah menjadi hal yang dekat dengan saya sejak saya di bangku SLTP (sekarang SMP). Saya masih ingat betul, saat itu tahun 1997. Saya menulis artikel dengan tulisan tangan di sebuah buku pelajaran (seingat saya buku pelajaran yang saya gunakan adalah buku tugas untuk mata pelajaran Bahasa Jawa - duh, maafkan saya pak Abu, guru bahasa Jawa yang sesungguhnya sangat baik, namun entah mengapa waktu itu saya bandel sehingga saat pelajaran saya sering menghabiskan waktu menulis artikel di buku tugas pelajaran Bahasa Jawa). Artikel yangs aya tulis itu sebagian besar adalah artikel-artikel yang bisa diterbitkan pada mading sekolah. Tapi saya tidak ingat betul apakah memang saat itu sekolah saya tidak mempunyai mading, sehingga saya harus menjadi penulis-artikel-mading wannabe? Ataukah memang sebenarnya sekolah saya memiliki mading namun saya tidak cukup percaya diri mengirimkan naskah tulisan saya kepada tim mading? Entahlah...

Setelah lulus SLTP, saya masih melakukan menulis, tapi kali ini saya menulis cerita berseri. Inspirasinya sebenarnya dari serial Amerika Dawson's Creek yang kalau tidak salah waktu itu ditayangkan oleh stasiun TPI (sekarang berganti menjadi MNC TV). Saya juga masih ingat keempat tokoh sentralnya, ada Galang, Diva, Myrta, dan Rudy. And guess what? Saya menuliskan cerita itu dengan tulisan tangan di buku saya, dan sampai sekarang tulisan itu masih ada (hanya sampai pada empat episode saja, hihi). Judul cerita saya waktu itu adalah "The CoffeeShop".

Dan kini, di tahun 2015, kembali starting point saya dalam menulis akan saya mulai. Kali ini semoga konsisten bisa menjadi bagian dari kegiatan menulis saya. So, I am welcoming my self with my new blog. KevShar.

^^