Aku memandang ke atas untuk kesekian kali. Memastikan bahwa tak ada yang ku lewatkan. Setiap inchi langit gelap itu ku telusur dengan mata minusku. Ah.. Seakan sia-sia usaha ini. Kaca mata minus 1 yang bertengger di hidungku tak juga cukup membantu pencarianku. Kedua mataku menyapukan pandangan ke seluruh bagian angkasa hitam yang terbentang bagai tanpa batas.
Aku menghela nafas, dan memejamkan mata, masih dengan kepala mendongak. Harapanku, selang 10 detik kemudian, saat ku buka mata kembali, ia telah ada di sana. Tersenyum padaku, seakan berkata, "aku takkan ke mana-mana, aku adalah penjagamu, guiding angel- mu". Namun usahaku sia-sia. Bahkan pada hitungan setelah detik ke-15, saat ku buka mataku lagi, kau tetap tak ada di sana. Kau tetap menghilang tanpa aku tahu kau ada di mana, tanpa aku tahu apa yang menimpamu, tanpa ada kata-kata apapun.
Aku beranjak dari tempat duduk rotan di teras rumahku. Kakiku membawa langkah gontaiku ke dalam rumah. Ada beberapa titik kristal bening di sudut luar mata kanan dan kiriku yang seakan-akan berebut untuk segera terbebas dari kelopak mataku dan mengalir membentuk aliran sungai kecil di kedua pipiku. Mereka menetes bersama saat ku pejamkan mataku. Aku menyerah. Hanya kali ini. Karena aku telah berjanji bahwa swtwlah masuk liang lahat baru aku akan berhenti berusaha. Aku merindumu, sangat...
*****
Entah malam ke berapa ini, namun aku masih akan tetap di sini. Perjalananku tidak akan ku hentikan, walau tanpa bisa maksimal menggunakan hari-hariku untuk melihatmu dan mendekatkan diri padamu. Jarak kita memang jauh. Terlalu jauh malah. Langit adalah rumahku, dan bumi adalah tempat kau pijakkan kakimu. Aku masih ingat melihat senyummu dari atas sini. Aku tak akan pernah bisa melupakan gaun violet yang kau kenakan saat itu. Kau tak hanya cantik, tapi kau membuatku senang memandangmu, bahagia bisa mengamatimu, dan tenang karena aku bisa menjagamu dari atas sini.
Aku tak pernah ingin berpisah darimu. Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa bisa memandangmu. Aku tak siap untuk merindukanmu. Tapi apa daya. Jarak kita terlalu jauh. Seandainya kita lebih dekat, maka tak hanya hatimu yang ku ikat, namun, aku juga akan menggenggam jemarimu dan tak akan ku lepaskan, tak akan pernah.
Aku menerima sinyal itu. Atau, aku dulu menerima sinyal itu. Sinyal dengan bahasa verbal, "maukah kau jadi guiding angel-ku?" Yang tanpa berpikir 2 kali aku langsung mengiyakan. Sayang, bahkan mengangguk pun aku tak bisa. Padahal, jika memungkinkan, aku pasti akan melompat-lompat kegirangan. Ini lah yang aku tunggu. Inilah yang aku inginkan. Dan engkau mewujudkannya. Engkau membuat ini jadi nyata.
Namun sayang, lagi-lagi malam ini awan hitam menghalangi pandanganku padamu. Aku tak bisa lagi melihat tawamu. Aku kehilangan momen-momen mengamati hal yang kau lakukan di bawah sana dari atas. Tapi, aku tak akan berhenti. Percayalah, esok malam aku akan mencarimu lagi. Semoga mendung tak lagi menghalangi pandanganku. Ya, aku merindumu, sangat... Aku adalah bulan.
No comments:
Post a Comment