Tuesday, December 22, 2015

Welcoming My Self

Menulis bukan hal yang susah. Setiap orang bisa menulis. Pasti. Menulis sama halnya dengan membaca, minum, makan, mandi, bermain, atau menonton film dan mendengarkan radio. Pertanyaan penting yang mungkin lebih harus menjadi perhatian sebetulnya adalah "Apakah saya bisa konsisten menulis?" Hm... yeah, pertanyaan ini akan sulit untuk dijawab, dan tentu lebih kompleks daripada pertanyaan, "Apakah saya bisa menulis?".

Satu hal kunci yang harus dipegang teguh, dipercayai dan dilakukan adalah 'konsisten'. Ini sama susahnya dengan 'ikhlas' sebenarnya. Banyak sumber yang menjelaskan mengenai ikhlas, mulai dari definisi konsep, aplikasi dalma kehidupan sehari-hari, hingga testimoni mengenai bagaimana kisah-kisah orang yang telah berhasil mengaplikasikan teori ikhlas ke dalam kehidupan mereka, dan pada akhirnya berakhir dengan bahagia. Namun, pelajaran ikhlas tidak mudah untuk dilakukan. Banyak orang yang merasa bahwa hingga usaha yang dilakukan sudah mereka rasa berada pada puncak tertentu, namun akhirnya jebol juga pertahanannya, sehingga bisa dibilang tidak lolos ujian untuk menjadi ikhlas.

Konsisten pun sama. Berulang kali saya mencoba untuk konsisten, berjanji kepada diri sendiri untuk menjalankannya, namun ada saja alasan (yang saya buat sendiri), sehingga konsisten yang sudah saya janjikan akan saya lakukan terhadap kebiasaan menulis ini tidak terealisasi dengan optimal.

Menulis sesungguhnya telah menjadi hal yang dekat dengan saya sejak saya di bangku SLTP (sekarang SMP). Saya masih ingat betul, saat itu tahun 1997. Saya menulis artikel dengan tulisan tangan di sebuah buku pelajaran (seingat saya buku pelajaran yang saya gunakan adalah buku tugas untuk mata pelajaran Bahasa Jawa - duh, maafkan saya pak Abu, guru bahasa Jawa yang sesungguhnya sangat baik, namun entah mengapa waktu itu saya bandel sehingga saat pelajaran saya sering menghabiskan waktu menulis artikel di buku tugas pelajaran Bahasa Jawa). Artikel yangs aya tulis itu sebagian besar adalah artikel-artikel yang bisa diterbitkan pada mading sekolah. Tapi saya tidak ingat betul apakah memang saat itu sekolah saya tidak mempunyai mading, sehingga saya harus menjadi penulis-artikel-mading wannabe? Ataukah memang sebenarnya sekolah saya memiliki mading namun saya tidak cukup percaya diri mengirimkan naskah tulisan saya kepada tim mading? Entahlah...

Setelah lulus SLTP, saya masih melakukan menulis, tapi kali ini saya menulis cerita berseri. Inspirasinya sebenarnya dari serial Amerika Dawson's Creek yang kalau tidak salah waktu itu ditayangkan oleh stasiun TPI (sekarang berganti menjadi MNC TV). Saya juga masih ingat keempat tokoh sentralnya, ada Galang, Diva, Myrta, dan Rudy. And guess what? Saya menuliskan cerita itu dengan tulisan tangan di buku saya, dan sampai sekarang tulisan itu masih ada (hanya sampai pada empat episode saja, hihi). Judul cerita saya waktu itu adalah "The CoffeeShop".

Dan kini, di tahun 2015, kembali starting point saya dalam menulis akan saya mulai. Kali ini semoga konsisten bisa menjadi bagian dari kegiatan menulis saya. So, I am welcoming my self with my new blog. KevShar.

^^

No comments:

Post a Comment