Shar memandang pohon-pohon yang saling berkejaran di luar jendela keretanya. Mereka tampak berlomba untuk menjadi yang pertama. Namun, tak terlihat kompetisi di antara pohon-pohon yang menjulang tidak terlalu tinggi itu. Sesekali hangatnya sinar matahari pagi menyibak dedaunan hijau pohon-pohon tersebut, seakan ingin ikut berkejaran dengan mereka. Shar menghela nafas sambil membetulkan kaca matanya yang berbingkai merah. Perjalanan pagi itu sangat dingin. Sweater rajutnya tak cukup mampu melindungi dinginnya AC di kereta ekonomi yang ia tumpangi pagi itu. Bagaimana tidak, satu gerbong ular besi sepanjang sekitar 30 meter itu dilengkapi dengan 6 AC ruangan yang minimal per AC nya memiliki kekuatan sekitar 1 ½ PK.
"Selamat pagi, pemeriksaan tiket", suara kondektur kereta membuyarkan lamunannya. Shar bergegas mengambil tiket keretanya dari dalam tas jinjingnya dan langsung menyerahkan pada pria berkumis tipis yang pagi itu didampingi oleh seorang laki-laki yang usianya terlihat lebih muda beberapa tahun dari kondektur tersebut.
"Stasiun Semarang Poncol, ya bu", ujarnya sambil melubangi tiket Shar dan menyerahkannya pada wanita yang bepergian hanya dengan membawa sebuah tas jinjing saja.
Setelah kondektur itu berlalu, Shar kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Pemandangan yang masih sama tampak di depan matanya. Permadani dengan warna gradasi hijau yang cantik dan tampak beberapa bagiannya berubah-ubah warna bagai hologram. Di kaca jendelanya, perempuan berdarah Sunda itu melihat pantulan anak anak dari tempat di seberang tempatnya sedang bercanda dan terdengar suara mereka yang riang dan renyah. Sesaat angannya melayang, mengembara jauh ke masa 25 tahun yang lalu...
*****
"Jadi, kalau berteman, kalian tidak boleh pilih-pilih ya. Harus mau berteman dengan siapa saja. Laki-laki dan perempuan tidak jadi masalah, yang penting sama-sama saling menghargai, tidak boleh bermusuhan", suara tegas bu Hasanah terngiang di telinga Shar. Namun, fikirannya tidak 100% terpusat pada materi pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Di depannya, buku catatannya bersih dari catatan, dan hanya terdapat beberapa tulisan kecil berbaris di situ. Shar & Kev. Itulah tulisan yang terdapat di sana. Di sebelahnya, Merry, tampak serius mendengarkan penjelasan bu Hasanah, namun tiba-tiba ia menyadari bahwa teman sebangkunya tampak lebih asyik dengan tulisan di buku catatannya.
" Shar, kamu ngapain sih?" tanya Merry penasaran.
"Eh.. Eh.. Nggak.. Nggak papa.. Nggak papa Mer", Shar tergagap merespon pertanyaan teman sebangkunya itu sambil menutup buku catatannya dan pura-pura memperhatikan pelajaran bu Hasanah.
Di saat yang bersamaan, Shar mendengar bu Hasanah memanggil namanya, " Apa Shar contohnya?" Sambil memandang tegas pada Shar yang salah tingkah dan tidak tau harus menjawab apa. Dia mencoba meminta bantuan pada Merry, namun sia-sia, karena teman sebangkunya sengaja menjauhkan kaki kanannya yang semula akan Shar injak untuk memberi kode bahwa Shar membutuhkan bantuannya.
Saat itulah pandangannya ia alihkan ke arah Kev yang duduk di bagian kiri depan, searah dengan posisi bu Hasanah berdiri. Bocah berusia 10 tahun itu spontan menaikkan alisnya, dan tanpa diduga Kev menggerakkan bibirnya. Tanpa menunggu waktu, Shar langsung membaca bibir Kev, dan mentransfer informasi dari Kev pada bu Hasanah. "Main bersama bu". Kemudian bibir mungilnya mengucapkan terima kasih pada Kev yang disambut dengan senyuman.
***
Kev. Nama itu telah menemani hidup Shar sejak hm.. Sejak seumur hidupnya mungkin. Dan hingga detik ini, tak hanya namanya yang lekat di benak Shar, namun hatinya juga tak bisa terlepas dari Kev. Shar memandang langit yang berhiaskan awan putih. Abstrak memmang bentuk awan itu, namun bukan mencari bentuk mirip apa awan di langit cerah pagi itu yang ia lakukan, melainkan meyakini bahwa langit yang sedang dipandang Kev pagi itu, di belahan bumi yang lain, adalah langit yang sama yang sedang ia pandangi.
Masa kecil yang Shar lewati bersama Kev adalah masa yang tidak ingin ia gantikan dengan apapun di dunia ini. 25 tahun yang lalu, ia jatuh hati pada teman sekelasnya itu, dan kini hatinya tak bisa beranjak dari pria yang entah apakah mungkin akan ia temui lagi. Jarak yang memisahkan mereka bukan lagi ratusan kilometer jauhnya. Bukan pula hanya daratan yang memisahkan mereka. Yang lebih penting, sesungguhnya bukan hanya jarak yang membuat mereka tak bisa bersama. Sesungguhnya perpisahan mereka adalah lebih karena keadaan. Yeah.. Shar harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa hidup bersama dengan orang yang ia sayangi...
No comments:
Post a Comment