Berteman dengan air mata menjadi hal yang biasa dalam hidupku kini. Tak ada yang bisa ku lakukan selain membiarkan dan (selalu terus berusaha dan mencoba berusaha) menikmatinya. Terkadang, menarik nafas dalam-dalam bisa membantu. Bukan membantu menghapus air mata, namun lebih tepatnya adalah membantu meringankan beban berat yang mengikuti desah nafasku, sehingga air mata itu tetap ada.
Bisakah air mata itu enyah dari hari-hariku? Entahlah, kadang aku menikmatinya. Getaran yang aku rasakan di dada ini terasa sempurna dengan air mata yang mengalir. Isakan tangis ini terasa lengkap dengan hadirnya butiran kristal di kedua pipiku. Aku semacam mencandui air mata. Namun hanya itu, hanya air mata yang mencanduku. Aku tak menggemari rasa sedih yang menyertai. Aku bukan penyuka kenelangsaan tak berujung yang mewarnai langkah hidupku. Orang bilang masa depanku masih panjang, hidupku masih lama. Entahlah... Bukan mereka yang menentukan seberapa lama hidupku di dunia ini, bukan?
Aku memang mencandui air mata, tapi aku pun pada suatu titik merasakan lelah dengan tangisan ini. Hidupku akan sia-sia. Benar apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Teteskan air mata untuk hal-hal yang berharga dan layak mendapat tetesan air mata. Hm... Lalu, apakah ini layak untuk dicandui? Apakah air mata ini tepat? Bagiku, kau lebih dari sekedar layak. Bagiku, hal ini pantas untuk buatku menangis dan mencandui air mata. Hanya saja aku tak tahu, sampai kapan aku bisa merasa baik-baik saja mencandui air mata karenamu. Aku tak tahu, sampai kapan aku merasa baik-baik saja mencandui air mata karena hal ini.
No comments:
Post a Comment